-
Spirit Kalteng

Karhutla dan Asap di Kalteng Mengganas, Kasus ISPA 114.365 dan 25.701 Kasus Diare, 284.645 Titik Hotspot, Luas Kebakaran Tembus 17.941 Hektare

162
×

Karhutla dan Asap di Kalteng Mengganas, Kasus ISPA 114.365 dan 25.701 Kasus Diare, 284.645 Titik Hotspot, Luas Kebakaran Tembus 17.941 Hektare

Sebarkan artikel ini
Tampak seorang pria tua tukang servis kompor gas keliling di Palangka Raya terpaksa harus tetap berjuang mencari sesuap nasi walau asap kebakaran sangat pekat menteror warga kota Palangka Raya.  FOTO TABENGAN/YULIANUS
-

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) masih menjadi perhatian serius. Berdasarkan infografis akumulasi karhutla Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalteng, periode 1 Januari hingga 12 Oktober 2026 pukul 18.00 WIB, tercatat sebanyak 284.645 titik hotspot, 6.203 kejadian karhutla, serta luas kebakaran mencapai 17.941,26 hektare.

Data tersebut menunjukkan penanganan karhutla membutuhkan upaya berkelanjutan melalui pencegahan, pemantauan wilayah rawan, kesiapsiagaan personel, serta keterlibatan masyarakat untuk mengurangi risiko kebakaran yang lebih luas.

Kepala BP-BPK Kalteng Ahmad Toyib menegaskan pentingnya kerja sama lintas sektor dalam menghadapi ancaman karhutla, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi saat kondisi lahan mengering.

“Penanganan karhutla tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan kerja sama seluruh unsur, mulai dari pemerintah daerah, petugas di lapangan, dunia usaha, hingga masyarakat. Pencegahan harus menjadi prioritas agar kebakaran dapat diantisipasi sejak dini dan tidak meluas,” katanya, di Palangka Raya, Rabu (14/10).

Infografis tersebut juga mencatat sebanyak 16.387 personel gabungan terlibat dalam penanganan karhutla di wilayah Kalteng. Selain itu, tercatat tujuh unit helikopter dan satu unit pesawat OMC/patroli sebagai dukungan operasional penanganan bencana.

Dukungan personel dan sarana tersebut menjadi bagian penting dalam upaya pemantauan, deteksi dini, serta penanganan kebakaran di lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat. Koordinasi antarpihak juga diperlukan agar sumber daya yang tersedia dapat digunakan secara efektif sesuai kondisi di lapangan.

Ahmad Toyib juga menekankan bahwa masyarakat memiliki peran penting dalam mencegah munculnya titik api, terutama dengan tidak membuka lahan melalui pembakaran dan segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran.

“Partisipasi masyarakat sangat menentukan keberhasilan pencegahan karhutla. Kami mengimbau warga agar tidak melakukan pembakaran untuk membuka lahan, tetap waspada terhadap potensi munculnya titik api, serta segera melaporkan kepada petugas apabila menemukan kebakaran,” katanya.

Sebaran data dalam infografis memperlihatkan aktivitas hotspot dan kejadian karhutla di sejumlah kabupaten dan kota di Kalteng, termasuk wilayah Kotawaringin Timur, Kotawaringin Barat, Kapuas, Seruyan, Katingan, Pulang Pisau, Barito Selatan, Barito Timur, Barito Utara, Gunung Mas, Murung Raya, Lamandau, Sukamara, serta Kota Palangka Raya.

Perbedaan jumlah hotspot, kejadian, dan luas kebakaran di setiap daerah menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah dan instansi terkait dalam menentukan prioritas pencegahan serta penanganan di lapangan.

Upaya pengendalian juga perlu disertai edukasi kepada masyarakat, pengawasan terhadap aktivitas pembukaan lahan, serta kesiapan menghadapi perubahan kondisi cuaca yang dapat meningkatkan potensi kebakaran.

Selain penanganan kebakaran, infografis turut mencatat 114.365 kasus ISPA dan 25.701 kasus diare. Angka tersebut merupakan data yang ditampilkan dalam infografis dan perlu ditafsirkan sesuai cakupan pelaporan masing-masing. Data itu tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh kasus tersebut disebabkan oleh karhutla.

Pemerintah daerah bersama unsur terkait diharapkan terus memperkuat langkah pencegahan, meningkatkan kesiapsiagaan personel, dan memastikan informasi mengenai potensi kebakaran tersampaikan dengan cepat kepada masyarakat.

Penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman saat api muncul, tetapi juga mencakup pengurangan risiko sebelum kebakaran terjadi. Kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan dan menghindari pembakaran terbuka menjadi salah satu faktor penting dalam menekan potensi kebakaran hutan dan lahan di Kalteng.

Dengan koordinasi yang konsisten dan keterlibatan seluruh elemen, upaya pengendalian karhutla diharapkan dapat berjalan lebih efektif sehingga dampak terhadap lingkungan, kesehatan, dan aktivitas masyarakat dapat diminimalkan. ldw/ded-red

 

-
-
-