PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palangka Raya kian parah dirasakan masyarakat. Berdasarkan pantauan, Rabu (14/10/2026), puluhan orang mendatangi Rumah Oksigen di lorong Ruang Terbuka Hijau (RTH) Bundaran Besar untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan dan penanganan terhadap keluhan yang dialami.
Sejumlah warga mengeluhkan berbagai gejala, mulai dari pusing, badan lemas, batuk hingga pilek. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran masyarakat, terutama bagi mereka yang memiliki anak dan harus beraktivitas di tengah kualitas udara yang memburuk.
Salah seorang pengunjung, Ika (28), mengaku mendatangi Rumah Oksigen untuk pertama kalinya guna mengantarkan anaknya menjalani pemeriksaan kesehatan. Ia mengatakan, anaknya mengalami batuk berulang selama kabut asap menyelimuti Kota Palangka Raya.
“Selama kabut asap ini, anak saya batuk-batuk terus, terutama setiap malam. Seperti alergi debu atau asap. Batuknya bahkan bisa tidak berhenti sampai satu jam,” katanya saat diwawancarai Tabengan.
Setibanya di Rumah Oksigen, anaknya menjalani pemeriksaan untuk mengetahui kondisi kesehatannya, termasuk pemeriksaan yang berkaitan dengan gangguan pernapasan.
Ika mengaku khawatir anaknya mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat paparan kabut asap. Namun, berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan petugas, kondisi anaknya disebut masih aman. Petugas kemudian menyarankan penanganan berupa nebulisasi atau terapi uap menggunakan alat medis (nebu), serta pemberian vitamin.
“Tadi periksa pernapasannya, takutnya terkena ISPA, syukurnya masih aman, jadi hanya disarankan untuk melakukan nebu sama dikasih vitamin,” ungkapnya.
Ika menuturkan, keluhan serupa juga dialami suaminya. Akan tetapi, karena keterbatasan waktu, suaminya belum sempat mendatangi Rumah Oksigen untuk memeriksakan kondisi kesehatannya.
“Selain anak, suami saya juga mengalami gejala yang sama, karena keterbatasan waktu makanya belum sempat mampir ke rumah oksigen,” tuturnya.
Menurutnya, keberadaan Rumah Oksigen cukup membantu masyarakat yang membutuhkan pemeriksaan di tengah kondisi udara yang dipenuhi asap. Meski demikian, ia berharap penanganan kabut asap tidak hanya berfokus pada dampak kesehatan, tetapi juga pada upaya mengatasi sumber permasalahannya.
“Harapannya tentu ingin udara kembali bersih dan bebas dari kabut asap. Untuk pemerintah daerah, semoga ada penanggulangan yang tepat untuk mengatasi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan,” harapnya.
Kabut asap akibat karhutla masih menjadi perhatian masyarakat karena berpotensi mengganggu kesehatan, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta warga yang memiliki gangguan pernapasan.
Masyarakat Kota Palangka Raya diharapkan mengurangi aktivitas di luar ruangan saat asap pekat, menggunakan masker yang sesuai ketika harus beraktivitas di luar, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan pernapasan yang menetap atau memburuk. dte/fwa-red











