PALANGKA RAYA/tabengan.co.id- Tim Sahabat Teras Narang (Terang) berjibaku dengan kondisi infrastruktur yang sulit dan berlumpur untuk menuju Kecamatan Kapuas Tengah, Kabupaten Kapuas. Sulitnya jalan yang dilalui Tim Sahabat Terang, menjadi catatan bagi Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Daerah Pemilihan (Dapil) Kalimantan Tengah (Kalteng) Agustin Teras Narang.
Teras Narang mengatakan, medan yang berat dengan jalan berlumpur mesti dihadapi tim untuk bisa mencapai dan bertemu warga. Namun dengan seluruh keterbatasan ini, gembira rasanya sebab para tokoh masyarakat dan pimpinan desa yang ditemui sepanjang reses memiliki harapan besar, terutama sektor pendidikan.
“Pembangunan infrastruktur memang menjadi tantangan tersendiri bagi wilayah kita di Kalteng yang luasnya melebihi luas Pulau Jawa keseluruhan. Sehingga tidak mudah menghadirkan pembangunan dengan keterbatasan yang banyak dimiliki daerah. Hal ini juga yang saya sampaikan dalam merespons harapan tokoh masyarakat dan pimpinan desa di kecamatan ini,” kata Teras saat menggelar reses, baru-baru ini.
Pada kesempatan itu, Teras tak lupa sembari mendorong mereka agar tetap semangat dan kreatif dalam keterbatasan yang ada saat ini, terlebih ketika pandemi membuat anggaran dana desa jadi terbatas peruntukannya.
Teras mengingatkan, bagaimana dulu dengan keterbatasan, dihadirkan Program Mamangun Tuntang Mahaga Lewu (PM2L). Sebuah program keroyokan antara beberapa desa yang bersinergi dengan pemerintah daerah maupun pelaku usaha swasta, dalam mendorong pembangunan. Ini adalah kreativitas dan inovasi kebijakan yang saat itu disiapkan.
Gubernur Kalteng periode 2005-2015 ini melanjutkan, semangat PM2L ini ada nilai kebersamaan layaknya semangat Huma Betang. Ada nilai gotong royong sebagaimana menjadi inti sari Pancasila. Kebijakan yang digarap bersama untuk kepentingan bersama.
Pola ini mestinya masih bisa digunakan dalam program-program pembangunan yang anggarannya terbatas. Gotong royong, tiap desa bisa bergantian mendapat perhatian program sinergi ini. Lewat sinergi ini, tak hanya pembangunan infrastruktur jalan, tapi juga pendidikan dan kesehatan dapat dikerjakan bersama.
“Saya mendengar pula berbagai harapan lain mulai dari soal kesejahteraan para damang dan mantir serta Badan Perwakilan Desa. Soal kebutuhan peningkatan kualitas pendidikan, persoalan banjir, penambangan liar, soal sertifikasi dan penataan ruang yang menghambat pembangunan rumah sakit di daerah Pujon, hingga upaya masyarakat mengembangkan kegiatan perekonomian,” kata Teras lagi.
Teras berharap, camat dapat mencari terobosan untuk izin penambangan rakyat yang kini sebenarnya sudah diatur oleh pemerintah. Adanya legalitas, maka cara kerja dan penggunaan alat serta bahan juga mesti disesuaikan agar ramah lingkungan. Pemerintah juga akan turut membantu. Inilah jadi bagian dari upaya camat dalam rangka agar penambangan liar tidak merusak lingkungan.
Selanjutnya terkait sertifikasi lahan di kawasan hutan memang tidak mudah, karena harus ada pelepasan kawasan. Apalagi bila kebutuhan sertifikasi berada di kawasan hutan produksi. Perubahan hutan produksi demikian, harus yang bisa dikonversi atau pada wilayah Hutan Produksi Konversi. Apakah wilayah yang ingin disertifikatkan masuk Area Penggunaan Lain atau bagaimana statusnya, mesti dipastikan terlebih dahulu.
“Saya harap pemerintah kabupaten atau pemerintah provinsi dengan dukungan elemen pemerintahan lain, termasuk kami di parlemen, dapat mendorong percepatan penataan ruang, sehingga masyarakat mendapatkan manfaat, keadilan, serta kepastian hukum atas lahan mereka,” ujarnya.
Teras berpesan, tugas kita masih panjang. Jadi jangan berpuas diri terhadap apa yang sudah dilakukan, sebab ini ternyata belum sesuai harapan masyarakat. Karena kita merupakan pelayan masyarakat, pelayan rakyat dan negara, karena itu semoga diberi kekuatan, kearifan, dan kepandaian agar dapat bekerja dengan baik. ded











