Di Kalteng, lanjut Sonny, saat ini warga lokal dihadapkan pada tiga masalah sumber penghasilan. Pertama tak adalah ladang berpindah, karena larangan membakar. Kedua, tidak boleh melakukan penambangan emas tradisional (PETI), meski ada ruang wilayah pertambangan rakyat (WPR) tidak berjalan. Dan yang ketiga, larangan menebang hutan.
Masyarakat lokal harus keluar dari masalah ini. Karena itu, lanjut Sonny, pihaknya mengajak BRIN dan UPR untuk melatih pengembangan gabus, singkah, dan rempah. “Sinergis yayasan, BRIN dan UPR. Mudahan ada Pemda, Kota dan provinsi yang ikut terlibat,” kata Sonny.
Sonny menegaskan, pihaknya juga sudah menggandeng Bank Rakyat Indonesia (BRI). Setelah produktivitas petani, nelayan dan UMKM meningkat, maka dapat mengakses modal melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) di BRI. Yayasan juga akan memberikan pelatihan kepada petani, nelayan dan UMKM untuk pemanfaatan teknologi digital. Dengan begitu memudahkan untuk mengakses pasar secara online.
Sementara, Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Pemanfaatan Riset dan Inovasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Mego Pinandito mengatakan, kebutuhan pasar dalam negeri sangat besar. Ia mendorong para pelaku UMKM untuk bisa meningkatkan nilai pangan, agar bisa memenuhi kebutuhan dalam nasional. Ia berharap kuliner dari Palangka Raya bisa menembus pasar nasional.
Misalnya produk ikan gabus, suatu saat dapat menghasilkan produk turunan seperti abon atau keripik yang sangat enak dan terkenal. Dalam hal ini BRIN siap membantu UMKM untuk mengakses pasar dalam negeri, membantu memasarkan. “Semoga pangan lokal dari Kalteng bisa menembus pasar nasional, bahkan global,” kata Mego. mel











