PALANGKA RAYA – Larangan Presiden RI Joko Widodo atas ekspor crude palm oil (CPO), dengan segala turunannya memberikan dampak yang cukup besar. Dampak yang paling merasakan atas larangan CPO itu adalah petani kelapa sawit swadaya. Perusahaan tidak membeli harga buah sawit berdasarkan harga tandan buah segar (TBS) yang ditetapkan pemerintah.
Dari harga yang ditetapkan pemerintah mencapai Rp 3 ribu, perusahaan bahkan membeli dengan harga Rp 1.700. harga TBS yang tidak kunjung membaik akibat dari larangan CPO tersebut, membuat para petani sawit yang tergabung dalam Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), melakukan aksi damai di Istana Negara. Tuntutannya hanya satu, membuka kembali keran ekspor CPO.
Ketua DPW Apkasindo Kalteng JMT Pandiangan, mengatakan, beberapa waktu lalu Apkasindo seluruh Indonesia berkumpul di Jakarta, untuk bertemu dengan Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto, dan juga ke Istana Negara. Garis besarnya, dari 29 orang yang diterima di Istana Negara, Kalteng mengirimkan 3 perwakilan. Di Istana Negara, rombongan diterima oleh Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko.
Ada 2 hal, kata JMT Pandiangan, yang menjadi tuntutan petani kelapa sawit. Pertama membuka kembali keran ekspor CPO, dan kedua merevisi Peraturan Menteri Pertanian No.1 Tahun 2018. Hasilnya, semua permintaan tersebut langsung dijawab presiden dengan membuka kembali keran ekspor CPO pada 23 Mei 2022. Dan, menggandeng Apkasindo dalam melakukan revisi Permentan No.1 Tahun 2018.
“Terima kasih kami sampaikan kepada Presiden RI Joko Widodo, yang sudah menjawab keluh kesah para petani kelapa sawit, dengan membuka kembali keran ekspor CPO pada Senin (23/5). Terima kasih kami sampaikan juga kepada Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, yang sudah menerima perwakilan Apkasindo di Istana Negara,” kata JMT Pandiangan, saat menggelar jumpa pers terkait dengan hasil pertemuan di Istana Negara beberapa waktu lalu, Sabtu (21/5/2022) di Palangka Raya.
1 bulan, kata JMT Pandiangan, paska diberlakukannya larangan ekspor CPO, para petani sawit sangat menderita. Pihak perusahaan beralasan tangki penuh, sehingga petani kelapa sawit tidak bisa berbuat apapun. Akibat itu pula, harga TBS merosot dengan tajam yang dampaknya sangat merugikan para petani kelapa sawit swadaya.
Keberhasilan Apkasindo dalam membuka kembali kran ekspor, kata JMT Pandiangan, dan juga kondisi petani sawit yang ada di Kalteng. Petani sawit di Kalteng memiliki potensi yang sangat menjanjikan, namun masih minim akan perhatian. Sebab itu, kondisi ini akan coba dibahas bersama dengan DPRD Kalteng.ded











