*Pemerintah Harus Menjaga Generasi Muda Kalteng
PALANGKA RAYA– Viral di media sosial sejumlah video mempertontonkan aksi dugem di sebuah kafe kawasan Kereng Bengkirai, Kecamatan Sabangau, Kota Palangka Raya. Pengunjung kafe yang berpesta diduga kaum lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT).
Selain berjingkrak-jingkrak, berjoget ria, tampak pula dalam video tersebut pasangan sesama jenis berpelukan erat, bahkan berciuman. Ada juga yang saling membelai dan berpegang tangan, seperti pasangan sedang jatuh cinta.
Video-video yang diunggah akun Tik-Tok @enggo1986 itu tentu saja mendapat reaksi dari para netizen dan tokoh-tokoh masyarakat di Kalteng, utamanya Kota Palangka Raya.
Wakil Ketua Persekutuan Gereja dan Lembaga Injili Indonesia (PGLII) Kota Palangka Raya Pdt Riki Rianoto SE STh menegaskan, masyarakat khususnya warga gereja, harus dengan tegas menolak hubungan LGBT dan menolak pernikahan sejenis.
“Apa pun alasan yang dikemukakan, sekali pun atas nama hak asasi, tidak dapat membenarkan perbuatan LGBT dan membatalkan hukum pernikahan yang ditetapkan Tuhan. Pernikahan Kristen bersifat heteroseksual, monogami dan seumur hidup,” katanya, Selasa (27/9).
Riki mengajak untuk melihat Kejadian 1:27 “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” Kejadian 2:23-24, “Dan dari rusuk yang diambil Tuhan Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Lalu berkatalah manusia itu: Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.” Sebab itu, seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.
Kemudian ditegaskan Yesus dalam Matius 19:4-6, Jawab Yesus: “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”
Menuru Riki, inilah alasan mendasar kenapa pembinaan rohani sangat penting di sekolah-sekolah dan kampus, agar gambar diri yang rusak diperbaiki.
MUI: Aparat Harus
Terpisah, Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Palangka Raya KH Zainal Arifin menegaskan bahwa kalau dari semua ormas Islam sudah jelas menolak keberadaan LGBT di kalteng terutama kota Palangka Raya.
“Nah kalau di café-cafe yang virai itu kan seharusnya aparat yang seharusnya cepat bergerak, misalnya Satpol-PP. Kalau ormas yang bergerak nanti dikatakan intoleran lagi, jadi MUI mengimbau kepada aparat untuk merazia café-cafe yang disitu tempat nongtrong LGBT berkumpul,” kata KH Zainal Arifin.
Cuman, lanjut KH Zainal Arifin, ada gak dari pemerintah kita di daerah ini sudah membuat Perda tentang LGBT ini?
“Saya MUI mewakili ormas Islam yang lain juga FKUB menolak keras LGBT berkembang di daerah kita,” tegasnya.
Perlu Disikapi dengan Serius
Sekretaris Persatuan Gereja Pantekosta Indonesia (PGPI) Provinsi Kalteng Pdt Dr Sahat P Sirait MTh menyebutkan, terkait viralnya salah satu kafe di Palangka Raya yang diduga menjadi tempat LGBT melakukan aksinya, maka perlu disikapi dengan serius.
“Sebagai warga Kota Palangka Raya dan sekaligus mewakili tokoh agama, saya meminta kepada pihak yang berwajib agar memerhatikan dan menyikapi dengan serius. Jika hal ini dibiarkan, maka generasi muda bangsa akan mengalami masalah yang cukup serius. Sebab, LGBT di bangsa ini tidak mendapat pengesahan jenis kelamin yang sah menurut undang-undang. Jika hal itu tidak sesuai dengan aturan pemerintah seyogianya pemerintah harus segera mengambil sikap tegas,” katanya, Selasa (27/9).
Mewakili PGPI, Sahat mengajak seluruh masyarakat Kota Palangka Raya maupun Kalteng agar memerhatikan hal ini dan mengedukasi keluarga masing-masing akan dampak dari LGBT.
“Kami mohon kepada pihak pemerintah agar segera menindak masalah ini dan jika memungkinkan menyediakan tempat pembinaan untuk mereka kembali kepada jati diri yang telah Tuhan berikan. Terima kasih,” imbuhnya.
Utus Dayak Sampai Mati Tolak LGBT
Jurnalis senior Kalteng asli suku Dayak, Sadagori Henoch Binti mengaku sangat sedih setelah melihat video di sebuah tempat hiburan malam di Palangka Raya yang dengan gamblang dan sangat terbuka memperlihatkan sikap mesra antara lelaki dan lelaki.
“Ironisnya, berdasarkan informasi yang layak dipercaya, penyuka sesama jenis, pria sesama pria tersebut diduga kuat adalah orang Dayak yang berasal dari beberapa kabupaten dan kota di Kalteng. Mereka sengaja berkumpul di THM tersebut untuk melepas rindu. Dan lebih ironis lagi, pengelola THM tersebut diduga tutup mata melihat penyimpangan, atau belum dia bahadat yang terjadi di tempat usaha mereka,” kata Bang Ririen, sapaan akrabnya, melalui surat terbuka kepada Tabengan, kemarin.
“Sekarang pertanyaaannya, selaku uluh Dayak, apa kita diam melihat belum dia bahadat di depan mata kita ??????? tentu jawabannya tidak !!!!!!!!! terus apa yang harus kita lakukan!!!!!,” tambah Ririen.
Sebagai bagian atau pengurus Dewan Adat Dayak, di Biro Humas dan Publikasi, Ririen sangat mengapresiasi langkah tegas DAD Kalteng yang menolak jika ada upaya untuk mengesahkan LGBT di Kalteng.
“Kita tentu sangat menolak pengesahan LGBT dan berbagai bentuk kegiatan LGBT di Kalteng,” tegas Andrie Elia, Ketua Harian DAD Kalteng, sebagaimana dikutip Bang Ririen.
“Menyikapi beredarnya video penyuka sesama jenis bermesraan di tempat hiburan malam, saya yakin DAD Kalteng pasti akan merapatkan barisan untuk ‘mematikan’ perbuatan tidak bahadat itu agar jangan terulang lagi,” kata Ririen.
Selain itu, ia juga meminta institusi terkait, baik Pemerintah Kota maupun kepolisian untuk menindaklanjuti informasi ini. Apakah tempat tersebut sudah mengantongi izin atau tidak. Kalau berizin, jelas kontribusinya untuk Pendapatan Asli Daerah, tetapi kalau tidak, maka pendapatan asli diduga hanya untuk pribadi.
Untuk “mematikan” LGBT, tambah Ririen, DAD dan Pemko serta aparat kepolisian harus menggandeng semua tokoh agama. Karena itu terkait dengan penyakit yang harus disembuhkan secara rohani.
Sebagai penutup, dan pengikut TUHAN YESUS, izinkan saya mengutif Firman TUHAN dari Imamat 20 ayat 13: Bila seorang laki-laki tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, jadi keduanya melakukan suatu kekejian, pastilah mereka dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri.
Roma 1 ayat 27 :Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka.dsn/ist











