Spirit Kalteng

Stasiun Pemantau Kualitas Udara Pulang Pisau Tak Berfungsi

33
×

Stasiun Pemantau Kualitas Udara Pulang Pisau Tak Berfungsi

Sebarkan artikel ini
TABENGAN/YAKIN TAK BERFUNGSI- Stasiun Pemantau Kualitas Udara yang terletak di Kantor DLH Pulpis tidak berfungsi. INSET Foto Veronica Lenny Puspasari

DLH Pulang Pisau: Itu Milik KLHK

PULANG PISAU/TABENGAN.CO.ID – Keberadaan Stasiun Pemantau Kualitas Udara di Kota Pulang Pisau (Pulpis) ternyata tak berfungsi. Selama ini, wewenang untuk memfungsikan Stasiun Pemantau Kualitas Udara Pulpis berasal dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI.

Satu-satunya Stasiun Pemantau Kualitas Udara di Kota Pulpis, Kabupaten Pulpis tersebut berada di Kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pulpis. Penempatannya untuk mewakili keberadaan kawasan industri, kawasan pemukiman, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dan lainnya. Pada musim kemarau ini keberadaan stasiun pemantau itu sangat dibutuhkan, sehingga kualitas udara di wilayah Kota Pulpis selalu terpantau setiap saat.

“Stasiun tersebut merupakan aset dari pusat. Jadi untuk pemfungsiannya atau pengoperasiannya pun menjadi wewenang dari pusat,” kata Kepala DLH Kabupaten Pulpis Hendri Arroyo melalui Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Veronica Lenny Puspasari, Rabu (30/8).

Veronica menerangkan, selama ini untuk pengukuran tingkat pencemaran atau polusi udara, terpaksa pihaknya meminta referensi dari Palangka Raya. Hal ini dilakukan karena tidak berfungsinya stasiun pemantau dimaksud.

“Kerusakan ini sudah beberapa bulan ini, tetapi kita sudah menyurati ke Direktorat Pencemaran Udara, untuk segera meminta perbaikan. Apalagi pada saat karhutla seperti sekarang ini, maka data-data itu sangat dibutuhkan masyarakat kita,” papar Veronica.

Diungkapkan Veronica, untuk hasil akhir selain alat stasiun pemantau itu, pihaknya juga ada menggunakan pemantauan udara melalui metode passive sampler.

“Metode passive sampler ini kita laksanakan 1 tahun sebanyak 2 kali. Ini metode yang menggunakan sistem penyerapan gas secara difusi melalui media yang dipaparkan dalam waktu tertentu tanpa menggunakan pompa penghisap, ” jelasnya.

Dikatakan Veronica, pada tahun 2022 lalu, pihaknya menggunakan metode passive sampler sangat cukup bagus hasilnya. Akan tetapi metode itu tidak seperti 2023 sekarang ini. Meningkatnya jumlah karhutla, tentunya akan ada perubahan dalam kualitas udara.

“Hasil laporan dari Palangka Raya, untuk kualitas udara kita sekarang ini masih dalam keadaan sedang,” jelasnya.

Veronica menambahkan, pihaknya juga bermohon agar akan ada penambahan kembali Stasiun Pemantau Kualitas Udara Pulpis. Paling tidak, ada penambahan 2 stasiun, sehingga jika terjadi perubahan udara seperti karhutla, maka jika ada kerusakan salah satu alat, maka alat lain akan mem-backup itu.

“Harapan kami dan bermohon kepada kementerian untuk dapat membantu penambahan stasiun pemantau ini. Apalagi daerah kita ini adalah salah satu kerentanan karhutla yang tinggi, maka tidak ada salahnya jika ditambah di daerah kita ini,” harapnya.

Jika ada penambahan alat, maka nantinya akan ditempatkan di kecamatan yang rentan karhutla, seperti di Kecamatan Jabiren Raya dan daerah lainnya.

“Selain itu, dengan kondisi udara sekarang ini, maka kami juga mengimbau agar masyarakat kita alangkah lebih baiknya untuk mulai menggunakan masker,” imbuhnya. c-mye

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *