Spirit Kalteng

Karhutla Meningkat, Kobar Siaga 24 Jam

41
×

Karhutla Meningkat, Kobar Siaga 24 Jam

Sebarkan artikel ini
ISTIMEWA PADAMKAN API- Anggota Manggala Agni Daerah Operasi Kalimantan III/Pangkalan Bun melakukan pemadaman karhutla di wilayah Kobar.

PANGKALAN BUN/TABENGAN.CO.IDKebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), akhir-akhir ini, terus terjadi. Guna percepatan penanganan, Manggala Agni Daerah Operasi (Daops) Kalimantan III/Pangkalan Bun harus siaga 24 jam.

Kepala Daops (Kadaops) Manggala Agni Kalimantan III/Pangkalan Bun Binsar Oktavianus Togatorop mengatakan, pihaknya bersama instansi dan stakeholder terkait terus melakukan upaya pemadaman di beberapa titik yang terdeteksi karhutla, baik yang diterima langsung dari laporan masyarakat maupun berdasarkan titik panas (hotspot) yang terpantau melalui satelit.

“Kejadian karhutla saat ini terus terjadi, sehingga kami harus siaga 24 jam. Kami lakukan pemadaman di 3 kabupaten dari 5 kabupaten pada wilayah kerja kami, di antaranya Kabupaten Kotawaringin Barat, Kotawaringin Timur dan Sukamara,” kata  Binsar, Rabu (6/9).

Menurut Binsar, pemadaman darat dilakukan oleh Manggala Agni bersinergi dengan instansi terkait. Dukungan dari Satgas udara juga terus dilakukan melalui water bombing untuk memadamkan di lokasi yang tidak terjangkau oleh tim darat.

“Selama kurun waktu dari Juni-Agustus, telah melakukan pemadaman karhutla sebanyak 107 titik dan mendeteksi  4.803 pantauan titik panas di 5 kabupaten wilayah kerja Manggala Agni Daops Kalimantan III/Pangkalan Bun,” ujar Binsar.

Menurutnya, pemadaman adalah tindakan terakhir yang dilakukan. Sampai dengan saat ini pihaknya terus mengedepankan upaya pencegahan, baik itu patroli, sosialisasi dan deteksi dini melalui pemantauan hotspot. Dari semua hasil pemantauan hotspot, setelah dilakukan ground check ke lokasi tidak semuanya terbukti kebakaran.

“Akibat karhutla yang sering terjadi di daerah Kalimantan Tengah, tentunya sangat berdampak pada menurunnya kualitas udara. Meski tidak menimbulkan kabut asap, namun tercium bau asap kebakaran di beberapa tempat, tidak  terkecuali di Kobar dan Kotim,” ujarnya.

Sementara itu, berdasarkan data Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) melalui aplikasi ISPUNet milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada Senin, 4 September 2023, di Kabupaten Kobar menunjukkan masuk dalam kategori baik, dan Kabupaten Kotim berada dalam kondisi sedang.

Sementara Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kobar Pahrul Laji menyampaikan, sebaiknya masyarakat menggunakan masker apabila mencium aroma bau dari asap karhutla, meski saat ini wilayah Kobar bebas dari asap.

“Tanpa disadari kita menghirup polusi udara berbahaya ini saat beraktivitas dalam sehari-hari, karena salah satu partikel udara yang kita hirup disebut PM 10 dan PM 2.5. Polusi PM 2.5 bisa meningkat karena udara panas, karhutla, dan polusi lingkungan yang dihasilkan dari gas emisi kendaraan. Jika dihirup, partikel udara ini bisa berbahaya bagi tubuh, terutama paru-paru dan jantung,” tuturnya.

Kotim Kemarau hingga Oktober

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandara H Asan Sampit Kabupaten Kotim memprediksi musim kemarau akan terjadi hingga Oktober 2023 mendatang.

Kepala BMKG Bandara H Asan Sampit Musuhanaya mengatakan, dari prakiraan awal musim hujan tahun 2023/2024 yang dikeluarkan oleh BMKG Pusat untuk wilayah Kotim pada Oktober Dasarian ke II hingga November Dasarian ke II.

“Saat ini kita masih berada di musim kemarau, meskipun selama dua hari ini terjadi hujan, namun tidak merata di wilayah ini,” ujarnya, Rabu (6/9).

Menurutnya, berdasarkan prakiraan cuaca untuk 7 dan 8 September 2023, wilayah Kotim akan kembali diprediksi cerah berawan.

Selain itu, dirinya juga menginformasikan jika selama Agustus 2023 suhu udara maksimum berkisar antara 30.4 sampai dengan 34.3 Celcius.

Untuk itu ia mengimbau agar masyarakat dapat berhati-hati dan waspada terhadap potensi kemudahan terjadinya kebakaran hutan dan lahan di musim kemarau.

Sementara itu, berdasarkan dari laporan Pusdalops Kotim untuk indeks standar pencemaran udara Kotim pada 6 September 2023, kualitas udara dikatakan sedang yang berarti tingkat kualitas udara masih dapat diterima pada kesehatan manusia, hewan dan tumbuhan. c-uli/c-may

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *