Hukrim

Psikolog Ulas Fenomena Marak Gantung Diri di Kalteng

9
×

Psikolog Ulas Fenomena Marak Gantung Diri di Kalteng

Sebarkan artikel ini
Psikolog Ulas Fenomena Marak Gantung Diri di Kalteng
Dosen Bimbingan Konseling IAIN Palangka Raya Ary Pamungkas

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Fenomena maraknya gantung diri di Kalimantan Tengah semakin memprihatinkan. Banyak orang yang mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri, hal tersebut tidak terlepas dari permasalahan hidup dan kondisi rasa sakit yang dialami secara terus menerus.

Menurut Psikolog yang juga Dosen Bimbingan Konseling IAIN Palangka Raya Gerry Olivia, ada banyak alasan mengapa orang merasa ingin mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Beberapa kondisi klinis, seperti depresi, dapat menyebabkan seseorang menjadi kurang stabil secara emosional dan ingin lepas dari rasa sakit yang dialaminya.

“Namun, ada juga kasus di mana seseorang ingin membunuh dirinya karena masalah keuangan atau pelecehan seksual dan permasalahan secara eksternal maupun internal yang tidak bisa terselesaikan,” kata Gerry Olivia, Senin (30/10).

Senada, Dosen Bimbingan Konseling IAIN Palangka Raya Ary Pamungkas menerangkan, fenomena dari bunuh diri dengan melakukan gantung diri ini merupakan masalah besar bagi kesehatan mental dan kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Karena bisa jadi fenomena ini akan memberikan contoh bagaimana ketika seseorang menyelesaikan masalah, yaitu salah satunya dengan mengakhiri hidup.

Beberapa orang yang memiliki pikiran bunuh diri mungkin menunjukkan tanda-tanda seperti perubahan perilak, seperti kehilangan minat, kontrol emosi yang tidak baik, berpikir berlebihan tentang segala hal, pesimis, isolasi sosial, dan perubahan dalam pola tidur atau makan.

“Tanpa mereka sadari, bunuh diri juga dapat memiliki dampak yang sangat besar bagi keluarga, teman-teman serta lingkungan masyarakat lingkungan sekitar tempat orang yang mengakhiri hidup mereka. Mereka mungkin merasa bersalah atau bingung mengenai apa yang terjadi dan dapat mengalami stres dan depresi jangka panjang,” terang Ary Pamungkas.

Ia menyebut, penyebab dari bunuh diri rata-rata antara lain adanya konsep terhadap diri dengan yang lainnya cenderung negatif, seperti melihat diri pada fisik seperti merasa tidak ideal, gemuk, kurus, hitam, pendek dan lain-lain.

Selanjutnya, melihat diri pada moral atau etik atau agama seperti tidak memahami konsep agama dengan baik, sering melanggar aturan. Melihat diri pada lingkungan sosial, merasa diacuhkan atau tidak diperhatikan, merasa sulit dipahami, merasa dikit yang menyukai, merasa tidak diperlakukan adil, kesulitan berinteraksi.

Melihat diri secara pribadi atau melihat diri sendiri seperti tidak mempunyai kompetensi, tidak mampu bersaing, tidak berguna dan berharga, tidak mampu melakukan banyak hal, serta melihat diri pada keluarga yakni merasa diacuhkan orang tua, penolakan dari anggota keluarga, tertutup, kesulitan menjalankan tanggung jawab, tidak punya kendali atas diri sendiri.

“Banyak faktor juga yang menyebabkan terjadinya bunuh diri seperti faktor genetik, pendidikan, ekonomi, budaya, dan faktor belajar sosial,” sebutnya.

Ary Pamungkas juga memberikan solusi agar bunuh diri bisa dihindarkan, terutama untuk orang terdekat dan sekitarnya, seperti menggali dan mengembangkan lagi kemampuan atau potensi yang dimiliki, serta lebih mensyukuri apa yang telah dimiliki dengan tetap berusaha dan merasa yakin dengan kemampuan yang dimiliki.

“Pada saat menghadapi masalah, cobalah untuk mencari penyebab dari masalah yang dihadapi dan segera mencari solusi yang positif,” katanya.

Selanjutnya, meningkatkan religiusitas dengan berdoa, menjalankan ibadah. Selanjutnya, pola asuh yang lebih demokratis, lebih mengenal lagi bagaimana perasaan anak, melatih dan mendengarkan anak untuk bercerita, melatih anak untuk mampu menyelesaikan permasalahan. Serta meningkatkan sikap empati ke lingkungan sekitar sebagai usaha preventif terjadinya tindakan bunuh diri.

Dari catatan Tabengan, sejak Januari hingga Oktober 2023, aksi bunuh diri ini sudah terjadi berkali-kali menimpa masyarakat Kalteng di berbagai daerah. Terakhir, peristiwa bunuh diri dengan cara gantung diri terjadi di Kota Palangka Raya, dilakukan oleh IA (20) warga Jalan Bangaris Kelurahan Tanjung Pinang, Kecamatan Pahandut, Minggu (29/10) dini hari. jef