#BPBD Kotim Gencarkan Pelatihan
PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Pemerintah Kota (Pemko) Palangka Raya resmi menetapkan status Siaga Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) terhitung sejak 22 Juli hingga 31 Agustus 2025. Penetapan ini dilakukan menyusul indikasi kuat bahwa wilayah kota mulai memasuki musim kemarau, yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran.
Plt. Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya Hendrikus Satriya Budi, menyampaikan bahwa berdasarkan pantauan iklim, data BMKG, dan laporan lapangan, aktivitas kebakaran lahan mulai meningkat.
“Hingga saat ini, kami telah menangani sekitar 35 kejadian kebakaran lahan, dengan total luas mencapai kurang lebih 10,69 hektare,” ujar Hendrikus saat ditemui Tabengan, Rabu (23/7).
Ia menyebutkan Kecamatan Jekan Raya menjadi wilayah dengan titik api terbanyak, yang sebagian besar disebabkan oleh praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar.
“Biasanya lahan dibersihkan lalu ditinggal. Ada kemungkinan oknum yang sengaja membakar. Namun, sejauh ini masih tergolong skala kecil dan terjadi di lahan masyarakat, bukan kawasan hutan,” jelasnya.
Meski situasi masih terkendali, BPBD Palangka Raya tetap bersiaga penuh. Tim Reaksi Cepat (TRC) dan relawan selalu siap diterjunkan begitu menerima laporan kebakaran. Masyarakat juga diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar karena dapat berdampak luas terhadap kesehatan, pendidikan, ekonomi, transportasi, dan kualitas udara.
“Harapan kami, jangan membakar lahan dalam bentuk apapun. Ini demi keselamatan dan kenyamanan bersama,” tegas Hendrikus.
Sementara itu, di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), upaya pencegahan karhutla juga terus dilakukan. BPBD Kotim menggelar pelatihan dan mitigasi karhutla di sejumlah kecamatan, salah satunya di Kecamatan Kotabesi pada hari yang sama, Rabu (23/7).
Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam K Anwar, menjelaskan bahwa pelatihan tersebut tidak hanya mencakup teknik pemadaman api, tetapi juga edukasi pencegahan, pengenalan wilayah rawan, serta pentingnya peran aktif masyarakat dalam pelaporan dini.
“Kegiatan ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kemampuan menghadapi ancaman karhutla,” ungkapnya.
Ia menyoroti pentingnya peran Masyarakat Peduli Api (MPA) dan relawan kebakaran (redkar) sebagai garda terdepan dalam pencegahan dan penanggulangan kebakaran, baik di pemukiman maupun hutan dan lahan.
“Semoga keberadaan MPA dan redkar benar-benar mampu menekan angka kejadian karhutla, terutama di wilayah-wilayah yang selama ini tergolong rawan,” harap Multazam.
Melalui pelatihan ini, lanjutnya, sinergi antar pihak diharapkan semakin kuat, sehingga upaya penanggulangan karhutla bisa dilakukan lebih efektif dan berkelanjutan.
“Dengan keterlibatan semua elemen, kita bisa melindungi diri, keluarga, dan lingkungan dari dampak karhutla,” pungkasnya. dte/c-may











