Spirit Kalteng

Korban Banjir Mulai Terserang Penyakit

30
×

Korban Banjir Mulai Terserang Penyakit

Sebarkan artikel ini
TABENGAN/YULIANTINI BANJIR- Penjabat Bupati Kobar Anang Dirjo didampingi Plt Sekda Kobar Junni Gultom dan Kepala Dinas TPHP Kobar Kris Budi Astuti meninjau langsung ke lokasi banjir. 

Masyarakat Kobar Butuhkan beras 250 ton, mi instan 23.841 dus, telur 23.841 piring, air mineral 23.841 dus, susu anak 4.768 pcs, popok bayi 4.768 pcs, selimut 23.841 pcs, tikar 12.850 pcs, kayu papan 64.250 keping, kayu balok 51.400 balok, paku papan 3.212, 5 kg, paku balok 3.212, 5 kg, tanah timbunan 60.000 m3 dan cor beton 1000 M3.

PANGKALAN BUN/TABENGAN.CO.ID– Tingginya intensitas hujan di wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat mengakibatkan 23.841 jiwa dari 5 kecamatan se-Kobar terdampak banjir. Para korban banjir pun mulai terserang berbagai penyakit.

Upaya percepatan penanganan bencana banjir, Pemerintah Kobar memperpanjang status Tanggap Darurat Banjir hingga 1 November 2022.  Penjabat Bupati Kobar Anang Dirjo telah menggelar rapat koordinasi mengundang pihak perusahaan, guna membahas kebutuhan yang harus segera dipenuhi bagi masyarakat terdampak banjir saat ini. Rapat tersebut dihadiri Ketua DPRD Kobar Rusdi Gozali, Plt Sekda Kobar Junni Gultom dan Wakapolres Kobar Kompol Wilhelmus Helky.

Menurut Anang, banjir yang terjadi di Kobar merupakan banjir terparah. Bahkan, mungkin akan terus meningkat lagi mengingat prediksi cuaca yang disampaikan BMKG Kobar, curah hujan akan terus terjadi hingga November mendatang.

“Dari 6 kecamatan yang ada di Kobar, 5 kecamatan (Arut Utara, Arut Selatan, Kumai, Kotawaringin Lama dan Kecamatan Pangkalan Banteng) saat ini kondisinya sangat memprihatinkan akibat banjir. Hanya Kecamatan Pangkalan Lada yang tidak terdampak banjir,” kata Anang, Selasa (18/10).

Saat ini, lanjut Anang, ada 31 desa di 5 kecamatan terendam banjir, dengan jumlah korban sebanyak 6.425 KK atau 23.841 jiwa. Masyarakat yang terdampak banjir sangat membutuhkan bantuan bukan saja sembako, tetapi membutuhkan bantuan lainnya seperti air mineral, susu anak, popok bayi, selimut, tikar, kayu papan, kayu balok, paku balok, tanah timbunan dan cor beton.

“Banyaknya kebutuhan yang diperlukan oleh masyarakat yang terdampak banjir saat ini, sementara anggaran yang tersisa untuk penanganan bencana banjir sebesar Rp2,8 miliar, maka kita pun mengajak pihak perusahaan untuk membantu melalui dana CSR, kita bergotong royong,” ujar Anang.

Sebab, menurutnya, berdasarkan data inventarisir yang dibutuhkan masyarakat yang terdampak banjir saat ini, beras 250 ton, mi instan 23.841 dus, telur 23.841 piring, air mineral 23.841 dus, susu anak 4.768 pcs, popok bayi 4.768 pcs, selimut 23.841 pcs, tikar 12.850 pcs, kayu papan 64.250 keping, kayu balok 51.400 balok, paku papan 3.212, 5 kg, paku balok 3.212, 5 kg, tanah timbunan 60.000 m3 dan cor beton 1000 M3.

“Selain itu juga, masyarakat yang terdampak banjir membutuhkan tempat untuk buang air, mengingat hampir semua wc milik masyarakat yang terdampak banjir saat ini terendam banjir, sehingga dibutuhkan 310 unit wc umum untuk 31 desa di 5 kecamatan dan 31 unit motor sedot tinja,” ujar Anang.

Lanjut Anang, hal lain yang dibutuhkan masyarakat terdampak banjir adalah pemeriksaan kesehatan. Pemerintah Daerah melalui Dinas Kesehatan telah menurunkan tenaga kesehatan dari Puskesmas, namun karena meluasnya banjir, sehingga kekurangan tenaga kesehatan.

“Kami sudah menyampaikan kepada Provinsi Kalimantan Tengah untuk bantuan tenaga kesehatan, sebab saat ini masyarakat yang terdampak banjir mulai terserang penyakit akibat banjir. Kami juga minta bantuan tenaga kesehatan yang ada di perkebunan kelapa sawit, untuk sementara fokus melayani masyarakat yang terdampak banjir se-Kobar,” beber Anang.

 

Bupati Lamandau Salurkan Bantuan

Sebagian wilayah di Kabupaten Lamandau hingga Selasa (18/10), masih dikepung banjir. Data terakhir, sebanyak 9.730 jiwa dari 3.238 KK terdampak banjir. Ratusan warga terpaksa mengungsi ke tenda pengungsian ataupun Gedung Sembaga Mas yang memang sudah disiapkan oleh pemerintah.

Untuk memastikan keamanan para pengungsi banjir,  Bupati Lamandau H Hendra Lesmana setiap hari melakukan monitoring secara langsung. Meski dengan kondisi basah kuyup, ia mendatangi lokasi pengungsian untuk memastikan keamanan para pengungsi, baik dari aspek kesehatan hingga ketersediaan bahan makanan.

“Tadi habis dari kantor saya langsung ke lapangan. Saya ingin memastikan langsung kondisi yang ada di lapangan. Terlebih khusus daerah perkotaan ini wilayah genangan terus meluas,” ujar Hendra di sela monitoring di daerah RT 8 Nanga Bulik, Senin (17/10) petang.

Hendra terus menyisir tenda-tenda pengungsian sembari menyalurkan bantuan paket sembako. Ia tak ingin hanya mendapat laporan dari para petugasnya di lapangan.

“Dari perkembangan yang ada, belum ada tanda-tanda banjir akan segera surut, bahkan justru sebaliknya. Intensitas hujan di berbagai wilayah di Lamandau masih tinggi, baik di hulu maupun hilir. Kondisi ini yang mengharuskan kita untuk terus meningkatkan kewaspadaan,” ujarnya.

Palangka Raya Siaga Banjir

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya Emi Abriyani, Selasa (18/10), mengatakan, saat ini sudah ada 13 kelurahan yang terdampak akibat kenaikan debit air. Kelurahan Langkai, Bukit Tunggal, Danau Tundai, Banturung, Pahandut Seberang, Palangka, Tumbang Tahai, Marang, Petuk Katimpun, Tanjung Pinang, Kameloh Baru, Bereng Bengkel dan Kelurahan Kalampangan.

“Kawasan tersebut menjadi langganan banjir karena memang berada pada daerah aliran sungai (DAS), sehingga cukup cepat tergenang apabila debit air sungai naik. Ketinggian air yang naik ke permukaan jalan permukiman sekitar 10 sampai 100 cm, sebagian ada yang masuk ke dalam rumah. Sedangkan di Kelurahan Tumbang Tahai, setidaknya sudah 5 hektare lahan pertanian yang tergenang,” kata Emi.

Hingga Selasa sore, setidaknya baru ada 33 KK, 74 jiwa dan 32 rumah yang terdampak genangan banjir yang berhasil tercatat oleh pihak BPBD. Diungkapkan Emi, sementara ini yang terdata baru kawasan Kelurahan Bukit Tunggal. Kawasan yang terendam air adalah Jalan Danau Rangas, dimana ada 20 rumah dan 22 KK serta 39 jiwa yang terdampak. Lalu di Jalan Buluh Merindu, kenaikan air mencapai 10 cm yang merendam 5 rumah yang dihuni oleh 6 KK dan 15 jiwa, sedangkan di Kompleks Perum PU ada 3 rumah dari 3 KK dan 9 jiwa terdampak genangan air.

Dan kawasan terakhir yang terendam di Kelurahan Bukit Tunggal ada di Jalan Alison II depan Kecamatan Jekan Raya. Sekitar 200 meter jalannya terendam karena drainasenya tidak ada pembuangan airnya, sehingga 5 rumah terendam air yang dihuni oleh 4 KK dan 15 jiwa. Sedangkan ada 4 jiwa mengungsi ke tempat keluarga.

Meskipun saat ini Pemprov Kalteng telah menetapkan status Tanggap Darurat Banjir di seluruh wilayah provinsi setempat, namun Kota Palangka Raya diakuinya masih menerapkan status Siaga Banjir. Akan tetapi berdasarkan hasil rapat koordinasi kebencanaan bersama Pemprov, Kota Palangka Raya disebutkannya sudah diarahkan untuk melakukan persiapan sedini mungkin.

“Setiap hari Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD selalu memantau ketinggian debit air di kawasan yang rawan terendam banjir. Untuk sarana dan prasarana serta teknis penanganan maupun penanggulangan banjir, sudah kami siapkan sejak beberapa bulan lalu. Memang puncak curah hujan telah diprediksi akan terjadi di akhir tahun ini,” ungkapnya.

Untuk itu, Emi meminta kepada masyarakat yang bermukim di kawasan tepi aliran sungai untuk biasa bersiap dan waspada menanti kemungkinan terburuk yakni adanya bencana banjir. Ia berharap agar masyarakat untuk bisa mengamankan barang-barang berharga dan berbahaya, serta memerhatikan aktivitas keluarga satu sama lain guna menghindari hal yang tak diinginkan. c-uli/c-kar/rgb

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *