PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID– Atlet cabang olahraga dayung menuntut bonus Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua 2021. Meskipun sudah satu tahun berlalu, namun hingga saat ini masih belum ada kejelasan. Para atlet pun merasa bingung harus ke mana untuk mengadunya.
Hal ini mendorong Septivina bersama rekan-rekannya 8 orang, Indra dan Davit (atlet Pelatnas), Kamal Sari, Fujianae, Yerni, Seli, Kisyanita, Astiana, mewakili 28 orang atlet dayung yang berlaga di PON Papua menuntut agar mereka diberikan bonus, karena telah berjuang mengharumkan nama Kalimantan Tengah (Kalteng) di multi event olahraga tingkat nasional.
“Tujuan kami ini bukan nanya lagi, menuntut bonus PON Papua. Ini kan sudah satu tahun lebih. Kami sudah bertanya ke KONI juga, tapi menurut kami itu tidak memuaskan. Jawabannya itu nanti disampaikan, kami kan mau tahu dan berkelanjutan pertemuan yang kemarin, sampai sekarang tidak ada sama sekali. Jadi intinya tujuan kita ini nuntut bonus, baru kali ini tidak ada bonusnya, itu saja poinnya,” kata Septivina, diaminkan rekan-rekannya.
Bertepatan dengan Hari Olahraga Nasional, mereka diberikan tali asih dan pihaknya berterima kasih karena adanya perhatian dari Gubernur, apresiasi kepada atlet di peraih medali di PON. Namun, Septivina bersama rekan-rekannya memahaminya sebagai pemberian pribadi dari Gubernur, bukan dari Pemprov ataupun KONI, seperti pada PON sebelum-sebelumnya seharusnya pemberian bonus.
Kalau seandainya dari Gubernur itu dianggap bonus, Septivina bersama rekan-rekannya anggap tidak mungkin, karena bonus itu tidak disamaratakan, ada hitungannya sesuai dengan perolehan medali. Namun tali asih tersebut semuanya sama menerimanya, baik atlet inti maupun cadangan, peraih medali 1 atau lebih.
“Ada yang cuma dapat 1 medali, ini kan beda-beda, ada yang 4 medali dan beda-beda nomornya. Kalau bonus kan jelas rinciannya, emasnya berapa, perak perunggu berapa. Kalau itu pemberian bonus, bahasanya juga bukan tali asih, kalau bonus itu kan jelas. Kami dapat tali asih Rp50 juta per orang, tapi pelatihnya tidak dapat. Kami atletnya sebanyak 28 orang. Pelatih tidak dapat, kalau bonus terinci pelatihnya juga ada,” pungkasnya.
Mereka mengaku bukannya tidak bersyukur dengan pemberian tali asih itu, tetapi berdasarkan pengalaman yang sebelum-sebelumnya prosedurnya bukan seperti itu. Kalau tidak ada lagi bonus, mereka ingin tahu apa kendalanya, sampai saat ini tidak ada penjelasan, baik dari pihak KONI maupun Pemprov kalteng.
Septivina beserta rekannya masih merasa tidak puas karena terkait bonus ini belum ada penjelasan. Sebagai atlet pihaknya ingin mendengarkan jawabannya lebih jelas. Namun sampai saat ini tidak ada, bahkan mereka yang selalu berinisiatif untuk menanyakannya.
“Kita tuntut jelaskan tidak ada sama sekali, berlalu begitu saja. Harapannya kami ada bonus, tapi kalau ada penjelasan dari sananya tidak ada, kan masa kita mau paksa. Kalaupun tali asih itu dianggap bonus, tahun 2016 itu sudah ada rinciannya jelas, nominalnya ada, jauh sekali dengan tali asih, itu tidak semua rata, ada perbedaan, atlet inti sekian, cadangan sekian,” jelas Davit peraih medali di nomor kayak.
Sebagai seorang atlet, lanjut Davit, bonus sangat penting bagi mereka. Kalau tidak ada bonus, mereka khawatir akan berdampak pada tidak ada yang mau menjadi atlet lagi karena perjuangannya kurang dihargai. Padahal berjuang di PON membawa nama daerah bukan, pribadi. Bonus sebagai motivasi bagi seorang atlet.
“Karena sebagai atlet itu, kami anggap berkarier di situ, berjuang juga buat masa depan, masa iya sudah berprestasi, latihan dan ada pembuktian prestasi sudah diraih, kok pulang-pulang tidak ada penghargaan. Bakalan tidak ikut pra PON dan PON karena tidak dibayar bonus. Kami minta kejelasan, ada atau tidak ada bonusnya, kejelasan rinciannya. Kemudian yang Rp110 juta yang dijanjikan saat pengalungan medali juga belum ada kejelasan. Ade-ade yang masih sebagai atlet ini juga tidak mau berjuang lagi nantinya, atau mogok di pra PON dan PON berikutnya,” pungkas Davit. yml











