PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Masih hangatnya sejumlah kasus intoleransi di luar Kalimantan Tengah seperti pembatasan peribadahan maupun larangan membangun salah satu rumah ibadah oleh pihak-pihak tertentu, mendapat perhatian khusus dari tokoh agama di Kalteng, salah satunya Pdt P Lantas Sinaga.
Mantan Anggota DPRD Kalteng yang saat ini merupakan Gembala GBI Barigas Palangka Raya tersebut mengecam kejadian-kejadian semacam itu, dan berharap jangan sampai terjadi di wilayah Kalteng.
“Kita berharap di Kalteng tidak sampai ada terjadi semacam itu, karena kita tahu Kalteng sendiri memiliki toleransi serta keberagaman yang kuat antar sesama,” ujarnya kepada Tabengan, Jumat (27/1).
Terkait kejadian-kejadian di luar Kalteng, dirinya mengakui sangat menyayangkan adanya hal seperti itu. Yang perlu jadi perhatian ada aturan dan undang-undang yang menjamin rakyat Indonesia bebas untuk beribadah serta membangun peribadatannya.
Intinya, apabila melawan atau tidak mematuhi aturan perundang-undangan itu, yang mana terkait tindakan intoleransi tentunya bisa dikenakan sanksi atau hukuman yang berlaku.
Apalagi Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu mengingatkan bahwa kegiatan keagamaan dan peribadatannya dilindungi oleh Undang-Undang yang berlaku. Sehingga mesti saling menghargai dan menghormati antar sesama, bukan malah melarang karena ada semacam buah pemikiran mayoritas atau lainnya. Di sisi lain dirinya menilai hal semacam itu seharusnya tidak perlu terjadi, karena masing-masing agama memiliki tokoh agama sebagai pembimbing rohani.
Maka untuk itu dirinya berharap agar para tokoh agama di Kalteng khususnya, bisa terus memberikan siraman-siraman rohani yang positif dan tidak bersifat provokatif. Hal ini tentunya penting, agar ada kesejukan serta kebaikan antar sesama yang terus terjaga dengan baik. Terkait itu dirinya juga melihat Kalteng selama ini juga sudah memiliki tokoh agama dan lainnya yang memang sudah sangat baik, bahkan memberikan bimbingan positif bagi pengikutnya.
“Bagusnya kita di Kalteng selain toleransinya yang sangat terjaga, juga adanya filosofi Huma Betang yang sudah ada sejak bertahun-tahun lamanya,” ujar dia.
Dicontohkannya tidak heran di Kalteng semua agama saling bahu membahu, saling bekerja sama dalam setiap kegiatan keagamaan. Bahkan di Palangka Raya sendiri, ujarnya, rumah ibadah sendiri berdampingan secara langsung tanpa pembatas. drn











